Koran & Interaksi

Waktu kecil saya suka membaca Koran

Bukan beritanya, tapi komik strip yang tayang tiap hari. Kebiasaan yang terbawa sampai saat ini. Saya jarang membaca berita di koran, bila tidak benar2 menarik minat. Yang saya lakukan hanya membaca judul berita, dan sub judul lalu foto, lihat gambar2 iklan, sambil2 membolak-balik halaman koran sampai habis

Namun beberapa hari yang lalu mau tak mau saya berhenti pada sebuah judul. Newspaper is Dead! Artikel yang ditulis oleh Asrul Ananda –putra Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos- ini membahas mengenai eksistensi media cetak di era digital. Dimana dengan adanya akses internet, informasi mengalir dengan mudah dengan kecepatan tinggi. Kebaruan informasi ini jelas sulit ditandingi oleh media cetak seperti koran. Hal ini berakibat pada terus menurunnya oplah koran.

Sementara itu tingginya biaya produksi untuk percetakan tentu saja adalah salah satu tidak dapat diacuhkan begitu saja. Untuk menghadapi hal tersebut salah satu strategi yang diterapkan oleh Media cetak adalah dengan membuat versi digital koran mereka. Dimana akses membaca koran melalui internet menjadi bebas dan tidak berbayar, dan koran akan merpertahankan kelangsungan organisasinya dari pendapatan iklan.

Menemukan 2 versi koran –cetak &digital- merupakan hal yang lumrah sekarang. Kemarin, sehari setelah membaca artikel tersebut, saya menemukan iklan mengenai versi digital koran kompas yang dapat diakses melalui : www.kompascetak.com. JawaPos sendiri, koran yang menurunkan artikel soal Newspaper is Dead! ini juga memPDFkan korannya di http://versipdf.jawapos.co.id/

Hari ini saya mencoba mengakses kedua sistus tersebut, menarik juga ternyata mengakses halaman per halaman versi digital sebuah koran. Dalam percobaan tersebut, salah satunya koran berbasis web tersebut dilengkapi dengan animasi yang seakan membuat halaman benar2 membalik seperti saat membalik koran versi cetak.

Saya sendiri belum benar-benar bisa membayangkan ketika koran versi cetak benar2 tidak ada, dan berganti dengan koran berbasis web sebagaimana yang dituangkan dalam artikel tersebut. Sulit rasanya memisahkan koran cetak dengan interaksi dan sisi emosional yang terjadi disekitarnya.

Waktu saya kecil saya suka duduk dipangkuan ayah saya yang membaca koran melihat tangan beliau yang begitu besar -untuk ukuran saya waktu itu- membolak-balik koran, kertas yang begitu lebar yang ketika saya rentangkan tangan kecil saya tidak cukup lebar untuk memegang sisi kiri dan kanannya bersamaan.

Namun ketika saya bayangkan kembali, barangkali bila tiba versi digital koran tersebut nanti, seorang anak akan duduk di pangkuan orang tuanya di depan sebuah laptop sambil mendengar cerita kedua orang tuanya dengan pandangan yang kagum akan cerita-cerita luar biasa yang terangkum dalam sebuah koran.

Digital atau tidak, saya yakin interaksi dan sisi-sisi emosional manusia akan selalu beradaptasi dan menemukan bentuknya...

                            

Berhenti...

Seorang kawan berkata

“kamu perlu berhenti sejenak”

Lalu waktu itu saya pun berhenti, berhenti membendung segala perasaan yang entah kenapa datang pada saat yang bersamaan. Saat dimana saya sadari saya tak cukup kuat untuk menampung segalanya pada waktu yang sama. Ibarat cawan yang terlampau penuh, maka meluaplah...

Meluap namun tak jua lenyap...

Merapuh dan luluh...

Benar saya perlu berhenti, berhenti agar saya bisa merasa, segala perasaan yang saya anggap sirna dan terlupa. Tapi ternyata ada. Ada disana dan muncul perlahan. Apa yang saya coba sembunyikan, apa yang saya simpan rapat-rapat...

Sepertinya saya menipu diri sendiri

Bermain kucing-kucingan dengan emosi pribadi

Dan kali ini saya tertangkap basah...

Tak lagi bisa menghindar, tak ada jalan keluar

Tapi apa gunanya melawan perasaan sendiri?

Maka saya berhenti.....

Berhenti...

Dan mengumpulkan kepingan hati...

Luka hati yang kubawa berlari

“Hingga hilang pedih perih” *

----

*mengutip "Aku" puisi Chairil Anwar

Kopi dan Gosip Salah Arah

Cafeine itu butuh teman dan lawan berperang

Jadi minum kopi jangan sendiri

Harus cari kawan untuk berbincang

Karena pahit manis hidup musti menyatu disini ...

---

Seperti biasa, lagi nongkrong minum kopi dengan seorang kawan pembela kebenaran dan idola remaja indonesia ...si Subiyanto...ato nama gaul: Subix

Subix : Nis...

Gw : hmm?

sambil mengaduk2 isi tas punggung subix yang segede gaban, tas yang selalu membuat orang terobsesi melihat apa isinya dan membuat si pemakai terlihat seperti kura-kura ninja

Subix : Jadi sekarang elu lagi jalan sama siapa?

Gw : gw? Umm...jomblo aja...

Tiba2 nemu drum stick dan mainan kubus yang masing2 sisi terdiri atas warna yang berbeda dan sembilan kotak kecil yang bisa diputar-putar (Bix...isi tas elu...ajaib banget)

Subix : (sambil mainan kubus yang tadi) lah gosipnya elu ganti2 pacar...

*hah?!* Buset dah!

Sebagai artis (ngarep) hidup gw emang bergelimang gosip *tsah* ... contohnya pas jaman kuliah dulu tiba2 entah kenapa dosen2 gw bergosip (serius...dosen...gw taunya karena salah satu dosen, mengkonfirmasi gosip tersebut ke gw) bahwa gw lagi jalan dengan salah satu senior gw angk 92. and for your information, saat itu gw adalah angkatan 99 yang imut lucu dan menggemaskan berumur 18 tahun dan si senior gw berumur 28 tahun *geleng-geleng kepala*

Yang para dosen itu ngga tau, adalah waktu itu gw sebenarnynya jadian ama senior gw angk 95 kawan si angk 92 yang mana berakibat membuat gw sering terlihat dengan si angk 92 (bu dosen...pak dosen... maap agaknya gosip anda2 meleset ke arah yang keliru, mhuahahaahhahaah)

Nah weekend kemaren gw sempat reuni mini ama senior2 gw itu, ngobrol kesana kemari ngga jelas sambil makan yakiniku dan shabu–shabu secara kalap dan biadap di hanamasa ditemani capuccino dingin... dan hasil reuni tsb: keknya gw + dua orang lainnya keracunan capuccino sehingga terserang insomnia tahap akut, huhuhuhuhu....

Diantara percakapan2 ngga jelas itu, mas Oji, senior gw angk 92 –yep benar sekali, dialah korban gosip salah arah dosen2 gw- berkata:

"Kadang gitu ngga kerasa umur udah 36 gini, yo wis gini ini, palingan cuman rambut makin banyak ubannya, ngga ada perubahan, kalo ngga inget tahun, aku masih mikir ini tahun 2001"

Kok ya pas gitu, siangnya sebelum reuni mini itu, gw ngobrol ama temen kantor gw soal umur juga... dia bilang "ngga kerasa ya nis...umur kita ud 26 tahun, tapi kok ya perasaaan masih gini2 aja, ngga ada perubahan yang signifikan"

Wahai Nurul temanku tersayang, sungguh engkau tak perlu berubah secara radikal dan menjadi kuda lumping di usia ke 27 nanti hanya untuk mengejar perubahan yang signifikan hahahahahaah =P

Tapi pernah ngerasa ngga...waktu kita kecil melihat segala sesuatu nampak begitu besar, tampak luar biasa, tampak menakjubkan...dan begitu waktu berlalu, umur bertambah, kita menjadi terbiasa dengan segala sesuatu, dan semuanya tampak biasa saja, tidak menakjubkan, tidak juga terlalu mengejutkan, hanya...biasa...itu saja.

Pas waktu umur belum nyampe 20, liat orang dengan usia 20 keatas kayaknya gimana gitu...tapi begitu kita sendiri mencapai umur segitu kayaknya biasa aja...ngga heboh2 amat...ngga dewasa2 amat...ngga beda2 amat...hehehe =P

Berkenaan dengan hal tersebut, gw dengan bangga menurunkan 2 analisis:

1. anda sudah masuk ke zona yang kelewat nyaman

2. anda memang berjiwa muda, jadi ngerasa masih muda aja gitu... :)

(hweheheeheh, analisis ngga penting banget yakkkkk)

Gw pastinya memilih berada di nomer dua, dikalangan orang2 berjiwa muda, merasa muda serta senantiasa imut, lucu dan menggemaskan *narsis* huehehehehe, Aniwey menurut gw pribadi, begitu menginjak usia twenty-something perbedaan mendasar justru bukan berasal dari diri sendiri tapi lebih ke perilaku orang-orang disekitar gw yang antara lain tiba-tiba menjadi peduli soal issue married...

Gw yang beberapa kali dicecar pertanyaan seputar kapan kawin, berhasil kabur dengan suksesnya menggunakan alasan (btw trik ini boleh ditiru)

"yaoloh...sapi terbang...." --> nunjuk kearah jendela trus menyelinap pelan2

ATAU

"waahhh...sinetronnya bagus banget yach...hujyan, becyek ngga ada ojyek lohhh..." --> sambil pasang muka seolah terpesona berlebihan liat monitor TV

Dan orang2 itu tertipu dengan nistanya.... Gyahahahahahah

Sebenarnya kalo dipikir2 pada tahapan tertentu dalam kehidupan kita *ceila bahasanya* selalu saja ada pertanyaan yang mengiringi....

Pas elu lagi kuliah pertanyaannya adalah "kapan lulusnya?"

Pas elu lulus "kapan kerjanya?"

Pas elu kerja "kapan kawinnya?"

Pas elu kawin "kapan punya anaknya?"

Pas elu punya anak "kapan anak elu kawinnya"

Hiyaaaaaaaaaaaaaaaa! Gedubrak!

Siklus yang ngga berhenti2: Lahir – Kawin – Beranak

Loh kok...mirip banget ama kucing *ekstrim* heheehehheeheh

Nah karena titik beratnya nampaknya pada tiga hal tersebut, otomatis pembicaraan dan gosip2 yang beredar juga ngga jauh dari itu...

Contoh kasus: beberapa waktu lalu tiba2 senior kuliah gw yang lain add YM ID gw gitu, trus ngobrol2 ringan soal gimana kabar dan sebagainya hingga pada pertanyaan yang membuat gw bengong seketika:

Senior : anak berapa, Nis?

Gw : hah?!

Senior : loh kan denger2 gosipnya katanya elu udah kawin…

*mampus kuadrat!*

Semoga para gossiper yang hobi membuat gw jadi topik hangat perbincangan tiba2 keterima jadi presenter infotainment, dan oleh karenanya gw mendadak jadi artis ternama, huehehehehe

In the mean time gw musti belajar menerima bahwa kehidupan gw sebagai artis (ngaco!) yang bergelimang gossip *tsah* terus berlanjut…

Toh... klarifikasi bisa saja terjadi sembari meneguk kopi dan ngobrol sana-sini ....

He he he he

Apes!

Anjr*t!

Astaghfirullah!


Gw terhenyak, terpaku, terpana seketika…

Lah…jok motor gw...kenapa nih?

Kok...

Sobek?


 Lakn*t!

Oh My God!


Gw langsung menyebut nama Tuhan dan memaki berganti-ganti… 

Kelakuan siapa ini? Siapa eh siapa yang berani2nya menorehkan benda tajam di jok motor gw -motor gw yg lucu dan imut seperti gw!!!- yang mana berakibat dari padanya jok motor gw sobek begitu rupa? Siapaaaaaa??? (histeris)


Gosh!


Bertahun-tahun gw nge-kos...ngga pernah ngadepin yang kayak gini, 9 tahun gw malang melintang jadi anak kos, motor-motor di kos-kosan yang gw tempatin selalu baik-baik saja, ngga pernah tiba2 berubah menjadi sapi, kucing peranakan persia atau kuda lumping trus minta dikasih makan beling (ya iyalah)


Ini (sambil geleng-geleng kepala) luar biasa, benar-benar diluar kebiasaan. Itu jok, kan kalo ngga dianeh2in ngga bakal sobek, nah kalo kata naluri detektip gw...gw curiga itu entah sengaja entah tidak disilet. Gimana engga? bekas benda tajamnya sampe tembus ke busanya trus motor2 lain yang nangkring dengan manisnya disebelah motor gw, juga dalam kondisi baik-baik saja...Uooohhhhh (melenguh putus asa). Alamat gw musti cari bengkel buat ganti jok... Ooh motorku –masih ngredit bayar cicilan tiap bulan– sayang, motorku yang malang....


APES gw..APES! Huhuhuhu


Berasa mau marah tapi sama sapa, maunya diem aja dibiarin tapi kok rasanya pengen nabokin robocop pake bukaan kaleng (hah?!) mau emosi tapi juga geleng2 kepala sambil ngelus dada...Duh Gusti...


Gara-gara insiden sobeknya jok motor itu, gw pergi ke pecinan beli film kungfu terus terhempas ke dunia lain ketemu Jacky chan ma Jet lI buat ngembaliin tongkatnya si kera sakti (ngga ding...itu ceritanya Forbidden Kingdom). Ingatan gw melayang kebeberapa waktu yang lalu soal beberapa insiden di kos yang berkenaan dengan motor gw....Maafkan aku motorku, huhuhuhuhu, seandainya kutahu isi hatimu sejak dulu (hah?!)


Akhirnya setelah MENIMBANG -berat badan gw ternyata masih dikisaran 38 kg- MENGINGAT  -bahwa gw ternyata kalah saingan sama Angelina Jolie buat ngedapetin Brad Pit- (ngaco!)Gw MEMUTUSKAN dan bertekad bulat, berhati baja, berotot kawat balung wesi (haiyaahhh) untuk melanjutkan kisah petualangan gw sebagai anak kos - yang imut (narsis!)- buat nyari tempat kos baru yang nyaman buat gw sekaligus bersahabat buat motor gw


Ehm, ada yang punya informasi? 

Jawa Pos = Indo Pos = Kantor Pos?! = Bakmi Japos?!

Di Surabaya –katakanlah di Jawa Timur- siapa tak kenal Jawa Pos? Koran besutan Dahlan Iskan ini begitu merajai pangsa pasar media cetak di Jawa Timur. Siapa yang tak tahu gedung Graha Pena yang berdiri megah di Jalan Ahmad Yani, adalah kantor tempat Jawa Pos & Grup anak2 perusahaannya bersemayam. Media mana yang begitu intens hubungannya dengan segenap jajaran pemerintahan, kepolisian dan berhasil menembus komunitas tionghoa di Jawa Timur? Tentu saja jawabannya adalah Jawa Pos. Disini, Jawa Pos bukan hanya koran, tapi lebih dari itu ia adalah sebuah gaya hidup (lifestyle) yang memuat dan menciptakan what’s in & what’s hot.

Dengan tag line “selalu ada yang baru” koran ini buat saya cukup punya kekuatan dalam hal inovasi. Seperti munculnya rubrik deteksi yang menyasar anak muda untuk menciptakan keterikatan merk sejak dini, dan mempersiapkan mereka sebagai pangsa pasar media Jawa Pos nantinya. Bahkan beberapa saat yang lalu, saat Dahlan Iskan melakukan operasi cangkok liver di China, tiba-tiba saja muncul rubrik harian baru yang memuat tulisan orang no 1 di Jawa Pos ini mengenai pengalamannya menjalani proses penggantian hati tersebut.

Menurut sudut pandang saya ini sih…ego pribadi, macam Surya Paloh yang juga suka tiba-tiba muncul di Metro TV untuk memaparkan pendapatnya mengenai ini dan itu. But hey, what can I say…they owned the media. Mereka adalah pemilik media dan tentunya cukup pintar untuk mengetahui kekuatan media massa dalam pembentukan opini publik.

Namun sekali lagi, meski saya tidak setuju dengan model penggunaan media oleh para pemiliknya seperti itu, tetapi saya akui rubrik tersebut adalah cara yang brilian dalam memahami tren konsumen media yang makin menyukai berita berbentuk feature dan bersifat entertainment. Jawa Pos paham bagaimana cara memenuhi keinginan konsumen sekaligus memanfaatkannya sebagai branding sosok Dahlan Iskan melalui media cetak yang dimiliknya.

Tapi sekuat apapun Jawa Pos di Jawa Timur di sekitarnya, dan memproklamirkan diri sebagai Koran Nasional dari daerah, Jawa Pos memang belum cukup mampu melakukan penetrasi pasar ke Jakarta. Soal kesulitan menembus area2 lain dimana koran setempat telah merajai pasar juga dialami media lainnya, sebagai contoh harian nasional Kompas yang begitu “powerfull” menggenggam Jakarta, namun ternyata kesulitan menembus pasar Jawa Timur dan sekitarnya. Tidak cuma Kompas, lihat saja koran Surya -grup kompas- yang harus kembang kempis bertarung dg Jawa Pos di Surabaya. Pantas saja dulu seorang kawan pernah berkata pada saya “Semua Koran yang mengaku Koran Nasional itu sebenarnya Koran Lokal” kekuatannya hanya di area lokal diamana koran tersebut berada, well in this case…I agree.

Nah...Suatu ketika saya berencana bertemu kawan yang bekerja di Jawa Pos, sekedar informasi Koran Jawa Pos di Jakarta berganti nama menjadi Indo Pos. Jawa Pos sendiri tetap punya biro Jakarta yang terpisah dari Indopos untuk mensuplai berita-berita nasional.

Begitulah, saya akhirnya berangkat menuju Graha Pena di bilangan Kebayoran Lama tempat Indo Pos & Jawa Pos biro Jakarta berada. Ini Graha Pena ke tiga yang pernah saya temui, pertama tentu saja di Surabaya, kemudian di Batam, dan kini saya berada di dalam taxi menemui satu lagi gedung bernama Graha Pena.

“Pak…ke Kantor Indo Pos ya pak di Jl. Kebayoran Lama” Saya berkata kepada pengumudi taxi, si Bapak Pun langsung mengemudi ke arah kebayoran lama. Begitu mendekati kebayoran lama, si Bapak pengemudi taxi bertanya…

“eee…mbak kantornya nanti di pinggir jalan gitu kan?”

“iya pak…”

“iya ya…kantor pos biasanya juga di pinggir jalan”

“eh anu pak…bukan kantor pos, tapi indo pos”

“iya…kayak kantor pos gitu kan mbak?”

Dang! “bukan pak…itu kantor koran”

“Koran?”

“Iya…koran indo pos”

“oohhh” kata si bapak dengan wajah bingung dan mengernyit dahinya

…sejurus kemudian, si bapak taxi minta ijin menepi, untuk bertanya warga dimana gerangan kantor tersebut berada…

Tapi ternyata bukan hanya saya sendiri yang mengalami hal seperti itu, karena begitu bertemu dengan kawan saya yang bekerja di Jawa Pos diapun menceritakan kisah antara adiknya, tukang ojek dan kantor Indopos/Jawa Pos.

“Mas ke kantor Jawa Pos ya” kata adiknya ke mas tukang ojek

“Apa Mas? Bakmi Japos?”

Dang!

Dan kawan saya itu berkatalah “Oalah Nis kerjaanku…kalah sama Bakmi Japos”

Percakapan di Bakoel Koffie

Akhirnya saat itu tiba juga. -selagi kau masih di Indonesia- Kita harus bicara. Soal apa yang tidak lagi kita punya.

Kamu : Barangkali aku harus mempertimbangkan lagi apakah kamu layak dicintai
Saya : Memicingkan mata dengan seluruh bahasa tubuh yg mengatakan “hah?!”

Kamu : Padahal aku telah memberi kamu kebebasan yang begitu besar
Hati saya seketika berkata: how can u give something that you never even have it? My freedom belong to me dear…it always be…past, present, future.

Kamu : Aku telah kalah oleh Jakarta… kamu berubah…
Saya : What the…

Kamu : Makasih buat kenangannya selama ini…mmm tapi bull sh*t!
Saya : …

Barangkali ini memang soal a bullsh*t thing called love. Dulu saya mencintai kamu, sekarang barangkali masih menyanyangi kamu, namun saya memutuskan pergi dengan alasan2 yang membuat saya memilih untuk tidak kembali. Saya telah mengatakan dengan jelas kepadamu berbulan-bulan yang lalu, akan tetapi tampaknya –yang semestinya juga saya menyadarinya- kamu begitu keras kepala dan tidak mau menyerah -saya akui itu luar biasa- tapi kadang-kadang kegigihanmu berada pada tempat yang tidak semestinya, dan membuatmu begitu...bebal.

Benar ini akan mengorbankan 4 tahun kebersamaan yang tidak sekejap mata. Betul kita telah mengorbankan banyak hal untuk relasi ini, tapi ini bukan lagi soal pengorbanan, ini soal bagaimana menjalani hidup jauh kedepan... Karena bersamamu saya hidup untuk saat ini, saya tak bisa melangkah keluar, tidak bisa berlari berloncatan dari masa depan ke masa lalu, dari kehidupan sekarang ke arah yang berlawanan dan kemana saja. saya menjadi terikat pada satu sisi waktu... terhenti pada satu Nisa dimana lapis-lapis diri saya yang lain mengabur...

Kamu : Terima kasih, tapi itu katamu, you can say whatever you want

Lalu saya, dalam percakapan ditemani segelas cokelat hangat itu pun membalikkan semua kata-kata dan pembelaanmu. Begitu kau mengatakan saya membangun pertahanan yang tinggi dan enggan membuka diri

Saya : Memangnya kamu tak begitu? Kamu tak mau dengar saya berkata apa, itu juga sama kan?

But my dear...apa yang begini ini masih bisa disebut relasi?

Barangkali tidak hanya kamu yang melukai saya, tapi saya juga telah melukai dirimu. I apologize for that... Hanya saja saat ini sepertinya kita berdua sama-sama terluka, lalu saya dan kamu sama-sama tak mau membuka telinga, kita berubah menjadi manusia-manusia keras kepala. And we both d*mn good at it!

Di Bakoel Koffie, segelas coklat hangat itu terasa begitu getir...barangkali karamel hangatmu juga begitu. Because we know, it's all about something that we no longer have...

Alienasi

Tak disangka saya jadi teringat kata: Alienasi. Rasa-rasanya pertama kali bertemu kata ini saat sedang duduk manis di kelas "Psikologi Komunikasi" membaca buku karangan Jalaluddin Rahmat berjudul persis sama dengan nama mata kuliah yang saya ikuti. Kali itu saya sedang membolik-balik halaman soal penelitian Dr. Zimbago, sebuah eksperimen yang bisa dikatakan cukup unik dan 'nyeleneh'.

Dr. Zimbago meletakkan sebuah mobil mogok dengan kap terbuka di dua tempat di USA. Yang pertama di daerah perkotaan Bronx dan yang kedua di pedesaan Palo Alto. Apa yang kemudian terjadi? Marilah kita tengok kondisi mobil yang ditinggalkan di Bronx, belum 24 jam berlalu kendaraan itu sudah mulai "dilepas" satu per satu. Pelek ban, kaca spionnya hingga peralatan audio mobil tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Keesokan harinya kondisi kendaraan itu makin memprihatinkan, kaca jendelanya pecah dan bodi mobil penuh dengan semprotan cat.

Bagaimana dengan nasib kendaraan kedua? Berbeda 180 derajat dengan rekan sejawatnya di Bronx. Meski sudah seminggu berada di daerah itu, namun mobil yang ditinggalkan untuk percobaan Dr. Zimbago tersebut nyaris tanpa perubahan apapun. Satu-satunya yang berbeda dari mobil tersebut adalah kondisi bahwa kap mobil yang awalnya terbuka kini tertutup karena saat hujan turun salah seorang penduduk Palo Alto berlari menuju mobil itu dan menutup kap mobil agar mesin mobil tersebut tidak basah oleh air hujan.

Dari hasil penelitian tersebut Dr. Zimbago menyimpulkan bahwa orang kota ternyata lebih agresif dari orang desa. Kecenderungan perilaku agresif ini dalam sudut pandang Dr. Zimbargo dikarenakan mereka ter-"alienasi" oleh kondisi sekitarnya. Suatu keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap segala hal atau sesuatu; sesama manusia, alam, lingkungan, tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri.

Alienasi pada masyarakat perkotaan ini terjadi akibat menipisnya interaksi antar individu di dalamnya. Ini bukan soal frekuensi pertemuan, sama sekali tidak, penduduk di perkotaan mereka sering bertemu satu sama lain tapi tidak pernah saling mengenal, karena hubungan yang terjadi antar mereka lebih didasarkan pada interaksi formal. Ini berbeda dengan yang terjadi pada penduduk di desa, mereka saling berhubungan dan membangun interaksi yang lebih personal.

Sebenarnya ingatan saya soal alienasi dipicu oleh percakapan sederhana dengan seorang teman dari teman kos saya. Awalnya basa-basi sopan mengenai kerasan tidaknya tinggal di Jakarta, lalu berlanjut soal dia lebih memilih hidup di Semarang daripada di Jakarta, alasannya? tak lain dan tak bukan ya soal interaksi itu tadi...

"Loh emang kenapa mas?" tanya saya
"Lebih banyak teman di Semarang, di Jakarta bukannya ngga kenal banyak orang, kenal.. tapi yang benar-benar teman ngga banyak, lebih sering ya..seperti ini maen ke tempat teman dari Semarang yang ternyata juga kerja di Jakarta"
"..."

Suatu ketika seorang teman juga pernah memasang status di Yahoo Massager-nya soal kesendirian dan keterasingan "the ultimate torture could happened to a man is trough solitude and loneliness"

Barangkali tidak sedikit orang yang begitu ter-alienasi di kota ini.

Barangkali juga saya

Bagaimana dengan anda?

Meleng, Oleng dan Magnet

Kadang gw suka ngeri sendiri kalo liat gaya gw jalan.

Yang pertama: Meleng!

Yang Kedua: Oleng!

Gw suka tiba-tiba aja jalan meleng nabrak orang, nabrak kaca, kesandung meja, hadduuuhhh. Yang terkahir terjadi kemaren malam. Gara2 maw nyapain rombongan si Raymond yang lagi asik makan di gondangdia, eh lagi hebohnya kissbye genit2mata dikedip2in ala mini mouse gitu  ada angin tapi ngga ada hujan tiba2  didepan gw nongol orang tinggi besar potongan cepak pake kaos loreng2 militer pasang muka serem gara2 gw tabrak...huaaaaaaaa buset, gw cuman pasang tampang nyengir kuda selebar2nya sambil bilang maap..maap lalu segera berlalu dari situ. Ngeri mak...ngeri! Semetara itu gw dengan suksesnya jadi bahan ketawaan Raymond dan rombongan, oh nasib!

Padahal tadi paginya, di lokasi yang sama: Gondangdia. Waktu gw jalan melenggang bak peragawati menuju kantor sambil mikirin si gebetan (cieee) diundakan tangga yang tak terlalu tinggi, hampir aja gw pose kayang. Bayangin pose kayang di stasiun gondangdia, nggak banget kan?? Kayaknya emang hari itu hari apes gw deh, kenapa coba gw menginjak anak tangga yang kebetulan licin? Bikin terpeleset pastinya dan badan gw lagnsung oleng! Untung aja tangan gw yang satu langsung megang meja yang ada depan gw, tangan gw satunya menopang tubuh ke belakang, satu kaki tertarik jauh kedepan, satu kaki lagi dalam posisi terlipat. Tawa bapak dan mas-mas ojek yang lagi mangkal di stasiun segera mengegema gara2 pose gw yang aneh bin  ajaib itu. Gw cuma bisa think positif aja, pahala..pahala...gw bisa bikin orang ketawa pagi2 di bulan ramadhan yang suci, semoga surga balasannya, amin.

Oke nisa, tenang...tarik nafas...hembuskan...tarik nafas...hembuskan (gitu aja berulang2) lalu berdiri perlahan dan berjalan melenggang seolah tidak terjadi apa-apa, I keep telling myself "it's normal...it's normal" mirip film kartun saat ada dua karakter aneh mengadakan percobaan pembuatan senjata untuk menguasai dunia, lalu tiba2 ramuan2nya meletup2 dan menimbulkan goncangan hebat lantas satu tokohnya berucap "it's normal dear, everything is OK" lalu begitu gedung laboratoriumnya mulai runtuh satu persatu juga ngomong "it's normal dear, everything is OK" sampe gedungnya abis rata dengan tanah, dan dua karakter aneh tadi berlumur jelaga item dan tertutup debu tebal tetep aja bilang "it's normal dear, everything is OK", huaaaa normal dari hongkong???

Gw melanjutkan perjalanan sambil melantunkan doa dan puja-puji dalam hati berharap moga2 tadi ngga ada yang inget muka gw yang lucu imut dan menggemaskan ini...moga2 mereka terkena amnesia mendadak dan ingatan jangka pendek soal seorang cewek berpose kayang di stasiun gondangdia terhapuskan....Gw berharap dengan sepenuh hati, karena ini berkitan dengan masa depan dan karir gw yang cemerlang... masa nanti pas gw jadi artis tenar, tiba2 si bapak ojek tiba2 teringat, wah artis itu kan yang dulu terpeleset hampir pose kayang di stasiun gondangdia? hmmm ini jelas bukan  publisitas yang diharapkan hehehe =P

Soal meleng dan oleng ini memang gw jagonya, pernah juga tiba2 gw menatap langit2 ruang di timezone surabaya plaza, gara2 kepleset. Asik-asiknya jalan, tiba2 gubrakkk, loh kok gw jadi ngilatin langit2?? Dan benar saja gw jatuh sempurna dengan posisi terlentang. Jangan tanya gw diketawain ato nggak…pokoknya jangan! Aib…aib…ya jelaslah gw diketawain, temen2 gw yang jalan bareng aja ngga nulungin malah ketawa ngga berhenti ngeliat gw, hantu!!!!!

Kali lain gw jalan meleng nabrak mobil yang lagi berhenti, natap pintu, kesandung box kardus, meja, kursi, kejedot jendela, hhhh.... kayaknya badan gw mengandung magnet bumi alamiah yang mempunyai daya tarik terhadap benda-benda lainnya, hmm...seandainya magnet ini berfungsi baik terhadap Brad Pit ato gebetan gw, pastinya gw bahagia tiada tara (menatap menerawang sambil berkaca-kaca...) hahahahha ;D

Soal Senja dan Seno Gumira

Barangkali memang ada keterikatan tersendiri antara Seno Gumira dan Senja. Seperti saat ini, ketika saya sedang menikmati novelnya berjudul Negeri Senja.  Ini kali keberapa saya melihat senja hadir dalam karyanya. Senja yang bergelimang cahaya keemasan sekaligus menimbulkan suasana menekan serta rasa was-was akan kehilangan saat nanti matahari tenggelam. Senja yang dalam kisahnya selalu tampak menawan meski terkadang penuh perasaan rawan.

Senja kali ini belum benar-benar saya selesaikan. Toh novel yang berkisah tentang negeri senja ini memang bertutur soal negeri dimana senja selalu menggantung dan matahari enggan terbenam dalam genangan cahayanya yang menyilaukan. Senja akan selalu tertahan di benang cakrawala, tak perlu terburu-buru, tak ada lagi senja yang harus diburu, dan semoga meninggalkan saya sedikit alasan untuk berlama-lama dan tidak segera mengembalikan novel pada si empunya... haha =P

Menikmati senja Seno Gumira, buat saya adalah mengizinkan waktu berjalan perlahan. Agar setiap kata-katanya mengalir tenang, menelusup dalam diam dan memabukkan. Layaknya sebuah ciuman kekasih yang hadir penuh kelembutan lalu semakin dalam dan menggetarkan.

Ada sesuatu dalam kisahnya yang selalu membuat perasaan menjadi tidak aman, timbul tenggelam dan samar. Sesuatu yang membuat saya seketika terpana ketika mengikuti imajinasinya dalam rangkaian kata yang membuat peristiwa tampak begitu sempurna memesona.

Kiranya cukuplah saya larut dalam gaya bahasanya yang begitu mendayu sendu namun menyimpan kekuatan maha dahsyat saat mengalun kisah. Sekarang saya hanya ingin terhayut dalam sepotong senja, senja seorang Seno Gumira, perkenankanlah saya luruh dalam cinta...

Antara Tahu Telor, Sate Sampler dan Mantan Pacar

Apa rasanya berbuka puasa bersama mantan pacar, lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik lagi yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain? Hehe. Dan inilah yang gw lakukan saat weekend kemaren, melewati hari menjalani pertanyaan tersebut.

Hasil dari pertemuan itu, ternyata gw menemukan tempat tahu telor yang enak (ngga nyambung! haha) dan tempat itu adalah Sate khas Senayan di Jl Kebon Sirih. Gw kira cuma satenya aja yang rasanya istimewa lembutnya (waktu itu gw kebetulan pesen sate sampler, biar bisa mencicipi cita rasa seluruh satenya mulai dari sate ayam, kambing dan sapi) tetapi begitu mencoba menu yang ini, tentu saja atas rekomedasi mantan pacar, lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik lagi yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain, ternyata memang rasanya mak nyusss! (refer to: tahu telornya ya bukan selingkuhnya =P) and owww… you should try ginger tea-nya, biasanya gw nggak suka jahe dalam segala bentuk, but this one definitely worth to try :D

Jadi begitulah, pembicaraan mengalir begitu saja diantara tahu telor, sate dan teh jahe. Membicarakan kawan lama, sampai kawan baru, dari hal-hal ngga penting soal uban dan warna rambut sampe soal perkembangan telekomunikasi di Indonesia serta kelangsungan berbangsa dan bernegara (hah?!)

Buat gw, sebenarnya hubungan gw ama mantan pacar, -lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain- :D bisa dibilang amazing, mengingat apa yang pernah terjadi 4 tahun yang lalu. Dimana pada kala itu bukanlah sebuah akhir yang indah bagi sebuah relasi. Tapi ternyata waktu berlalu, masing2 dari kami menjalani kehidupan sendiri2 hingga kini bertemu lagi dengan sosok yang jauh berbeda dengan bertahun2 yang lalu.

Dan ini bukan suatu hal yang terbayangkan sebelumnya. Ada masa-masa dimana kami tidak saling menyapa, saat luka yang tertoreh masih begitu terbuka. Haha. Tapi sekarang semua perbincangan berajalan apa adanya, sederhana dan mengena. Bertukar kisah soal gebetan baru masing2 jadi hal yang lumrah dan biasa. Pencapaian luar biasa untuk empat tahun perjalanan kita. Bukan begitu? Let's cheers.. Ditengah tahu telor, sate dan teh jahe....We're doing doing great daaaggghhliiinngggg.... we're doing great.... =P