Koran & Interaksi
Waktu kecil saya suka membaca Koran
Bukan beritanya, tapi komik strip yang tayang tiap hari. Kebiasaan yang terbawa sampai saat ini. Saya jarang membaca berita di koran, bila tidak benar2 menarik minat. Yang saya lakukan hanya membaca judul berita, dan sub judul lalu foto, lihat gambar2 iklan, sambil2 membolak-balik halaman koran sampai habis
Namun beberapa hari yang lalu mau tak mau saya berhenti pada sebuah judul. Newspaper is Dead! Artikel yang ditulis oleh Asrul Ananda –putra Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos- ini membahas mengenai eksistensi media cetak di era digital. Dimana dengan adanya akses internet, informasi mengalir dengan mudah dengan kecepatan tinggi. Kebaruan informasi ini jelas sulit ditandingi oleh media cetak seperti koran. Hal ini berakibat pada terus menurunnya oplah koran.
Sementara itu tingginya biaya produksi untuk percetakan tentu saja adalah salah satu tidak dapat diacuhkan begitu saja. Untuk menghadapi hal tersebut salah satu strategi yang diterapkan oleh Media cetak adalah dengan membuat versi digital koran mereka. Dimana akses membaca koran melalui internet menjadi bebas dan tidak berbayar, dan koran akan merpertahankan kelangsungan organisasinya dari pendapatan iklan.
Menemukan 2 versi koran –cetak &digital- merupakan hal yang lumrah sekarang. Kemarin, sehari setelah membaca artikel tersebut, saya menemukan iklan mengenai versi digital koran kompas yang dapat diakses melalui : www.kompascetak.com. JawaPos sendiri, koran yang menurunkan artikel soal Newspaper is Dead! ini juga memPDFkan korannya di http://versipdf.jawapos.co.id/
Hari ini saya mencoba mengakses kedua sistus tersebut, menarik juga ternyata mengakses halaman per halaman versi digital sebuah koran. Dalam percobaan tersebut, salah satunya koran berbasis web tersebut dilengkapi dengan animasi yang seakan membuat halaman benar2 membalik seperti saat membalik koran versi cetak.
Saya sendiri belum benar-benar bisa membayangkan ketika koran versi cetak benar2 tidak ada, dan berganti dengan koran berbasis web sebagaimana yang dituangkan dalam artikel tersebut. Sulit rasanya memisahkan koran cetak dengan interaksi dan sisi emosional yang terjadi disekitarnya.
Waktu saya kecil saya suka duduk dipangkuan ayah saya yang membaca koran melihat tangan beliau yang begitu besar -untuk ukuran saya waktu itu- membolak-balik koran, kertas yang begitu lebar yang ketika saya rentangkan tangan kecil saya tidak cukup lebar untuk memegang sisi kiri dan kanannya bersamaan.
Namun ketika saya bayangkan kembali, barangkali bila tiba versi digital koran tersebut nanti, seorang anak akan duduk di pangkuan orang tuanya di depan sebuah laptop sambil mendengar cerita kedua orang tuanya dengan pandangan yang kagum akan cerita-cerita luar biasa yang terangkum dalam sebuah koran.
Digital atau tidak, saya yakin interaksi dan sisi-sisi emosional manusia akan selalu beradaptasi dan menemukan bentuknya...

Recent Comments