« July 2007 | Main | September 2007 »

Tergila-gila

Akhir-akhir ini saya sedang suka membaca kalau tidak bisa dibilang tergila-gila pada novel serial karya Syahmedi Dean -seorang jurnalis lifestyle yang malang melintang sebagai redaktur di beberapa majalah wanita terkemuka Indonesia- Perkenalan saya pertama dengan novelnya dimulai dari LSDLF (Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion) secara tidak sengaja, saat mengantar Tante saya memilih2 buku resep masakan dan kue di perpustakaan daerah kota Malang.

Begitu melihat covernya saya langsung terhenti. LSDLF? Gerangan apakah ini? Lalu saya melanjutkan membaca lagi tulisan dibawahnya : Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion, hati saya langsung berkata hmm…bagaimana ceritanya semangkok lontong sayur bersanding dengan fashion? Lontong sayur yang notabene makanan kuah berlemak bisa akur dengan fashion yang begitu mengagungkan keindahan, bentuk tubuh ideal dan semacamnya?

 

Harus diakui covernya memang punya stopping power yang bagus. Pemilihan judul dalam bentuk singkatan, yang mana jarang sekali digunakan dalam sebuah halaman muka sebuah novel dan  tidak lupa penggunaan kata-kata yang menggoda (ohmyGod lontong sayur dan fashion bersatu??) serta konsistensi pada cover novel2 syahmedi dean berikutnya JPVFK = Jakarta Paris via French Kiss --> hmm…tempting! :D lengkap dengan sampul orange yang mau tidak mau membuat mata melirik, serta PGDPC = Pengantin Gipsi dan Penipu Cinta, serial terbaru novelnya berwarna silver dengan paduan merah dan hitam, simply attractive.

 

Lsdlf

JpvfkPgdpc

 

 










Secara jalan cerita, novel ini berkisah tentang persahabatan empat orang wartawan lifestyle, yakni Alif, Raisa, Didi dan Nisa. Kesemuanya terbungkus dalam kondisi sosial metropolis, dimana mereka berinteraksi dengan fashionista, kaum metroseksual, social climber, sembari saling memberikan kritik dan komentar soal isu-isu hangat terkini. Menikmati fashion show Milan, Paris, London dan gelombang emosi persahabatan mereka dalam lembaran koleksi Prada, Christian Dior, Channel, Max Mara dan Paul Smith.

 

Yang juga menarik adalah jalinan peristiwa dan konflik diantara keempatnya yang membangun karakter masing-masing tokoh maupun yang secara tidak terduga bertaut satu sama lain. Alif Afrizal seorang fashion editor majalah terkemuka yang terjebak didalam perasaannya sendiri, antara menginginkan kembali pada Saidah mantan istrinya, dan tenggelam dalam hubungan-hubungan affairnya. Didi, yang terlibat hubungan teman tapi mesra karena beranggapan "Hari begene kok sesama laki-laki pacaran, too old fashioned, Lagi pula kalau dipikir-pikir, sesama laki-laki pacaran, life goal-nya apa?” Nisa, yang ketagihan French kiss dengan pria Prancis, atau Raisa yang akhirnya malah jatuh cinta pada seorang sahabatnya, dan tergerak untuk terbang ribuan mil jauhnya untuk bergerak terlebih dulu mengejar lelaki impiannya.

 

Saya sendiri, mengapa kemudian tergila-gila pada novel ini selain karena menurut saya Syhamedi Dean, memang  “abso–fashion-lutely--> meminjam istilah Didi, (salah satu karakter di novel tsb) bertangan dingin dalam merangkai kata, memainkan emosi serta merunut jalan cerita, saya begitu tertarik dengan karakter Alif. Mengapa? coz sometimes I see you in me Alif, hahahahaah --> gubrakkkk. Seorang Alif yang terbelit dengan perasaannya sendiri, tenang tapi menyimpan kegalauan dan kegelisahan. Hmm… pemikiran dan perasaannya yang tertuang seringkali membuat saya tersenyum dan berkata dalam hati: Damn! Yes, that’s probably exactly what I do that if I were you :D. 

 

Kembali pada ketergila-gilaan (atau saya yang rada gila beneran) pada LSDLF, JPVFK, dan PGDPC, novel-novel ini juga merupakan salah satu bacaan favorit saya ketika dalam kondisi kejiwaan yang tidak menentu (hah??) Terkadang saya dengan sengaja kembali membaca novel itu buat melepaskan dan meluruhkan emosi, membiarkannya apa yang ada dalam diri saya mengalir dalam setiap kata yang saya susuri lembar demi lembar. Mengaduk perasaan yang entah perasaan Alif, Raisa, Nisa dan Didi atau perasaan saya sendiri…

                            

Stasiun Gambir & Kereta Api

Gambir Kemaren, dengan merelakan jam makan siang, gw berangkat penuh semangat menuju stasiun gambir memesan tiket kereta buat menghadiri kawinan temen gw si Jati (wish you have a wonderful marriage, darling...). Begitu nyampe disana dengan selamat dari supir kopaja P-20 yang nyetirnya ugal2an -anjrit bikin gw jantungan setengah mati karena kopajanya oleng kekiri dan kekanan- gw mengarah ke loket reservasi. Anyway beberapa hari sebelumnya gw udah dapet tiket pulang ke malang, jadi kali ni gw tinggal nyari tiket buat balik ke Jakarta nih. Dan beginilah kira2 percakapan saya dengan si mbak penjaga loket reservasi

 

Gw: Mbak itu buat Malang-Jakarta ya (sambil menyerahkan form beli tiket, in case yang belum tau prosedur pemesanan tiket Kereta api, musti isi form dulu sebelum beli ya, jadi ada baiknya bawa bolpen sendiri dari rumah)

Si mbak: ohh…

Si mbak: kita lagi offline, jadi ga bisa buat pesen yang diluar Jakarta

Gw: lah? Mbak sampe kapan?

Si Mbak: ngga tau, ini aja udah 4 hari offline

 

Dhueeeeeenng!!!! 4 hari offline dan belum ada kepastian kapan bisa online lagi system reservasinya?

OhmyGod, pada kemana semua? Coba bayangkan dalam 4 hari itu berapa orang yang ngga jadi beli tiket dan bisa jadi beralih pada alat transportasi lain. Wah dalam kondisi begini apa tidak ada yang coba berhitung untung rugi PT. KAI kehilangan calon konsumen. dan tentu saja pengaruhnya terhadap komitmen peningkatan pelayanan pada masyarakat?

Gw jadi geleng2 dan tentunya emosi tidak karuan karena lapar ngga makan siang. Waduh, begitu balik nyampe kantor pake bajaj bbg yang ijo itu, gw ngomel trus makan nasi bungkus lauk cumi (hah?!) Gw sampe akhirnya musti menghubungi temen gw di malang buat beliin tiket dari sana.

Jujur aja gw ini bisa dikatakan pecinta kereta api, waktu kuliah di surabaya gw termasuk setia menggunakan kereta api penataran sebagai alat transportasi sby-mlg-sby. Menurut gw pribadi perjalan antar kota paling santai ditempuh dengan alat transportasi ini. Bisa menikmati pemandangan selama perjalanan sembari merasakan ayunan gerbong dan nuansa penumpang yang lebih bersahabat.

Tapi ya…kalo jauhnya setengah mati, dari Jakarta-batam misalnya, ada baiknya dipertimbangkan penggunaan transportasi lain yang lebih efesien dalam hal pengunaan waktu, heheheeheh. Karena memang kereta api bukan alat transportasi yang tergolong patuh pada jadwal, sebagaimana yang dilansir dari website PT.KAI  (yang mana datanya sangat tidak update --> data 2001) jadwal perjalanan KA Penumpang rata-rata terlambat berangkat 36,33 menit dan rata-rata terlambat datang 59,33 menit.

Soal telat ini masalah yang biasa gw alami, gw kerap menganggur cenggur di stasiun nungguin kereta datang. Atau juga bersabar diri ketika ternyata kereta juga harus telat sampai tujuan, hhhh…Namun sebenarnya persoalan di kereta api lebih dari sekedar telatnya jadwal, ada juga masalah kenyamanan penumpang, keamanan selama perjalanan, pelayanan terhadap konsumen, pemeliharaan serta kondisi fisik sarana dan prasarana kereta (termasuk didalamnya gerbong, stasiun, rel, mesin2, dsb), pemanfaatan teknologi, dll. Dari sisi manajemen PT KAI ini perlu dibenahi, dari sisi pengguna juga saya rasa kita perlu menjadi penumpang yang baik & turut menjaga fasilitas publik.

Images Karena apapun kondisinya gw tetaplah seorang pecinta…..pecinta kereta api maksudnya :D Sebuah alat transportasi massal yang paling hemat energi dibandingkan dengan alat transportasi lain (10x lebih hemat dari pesawat terbang) dan untuk itulah gw tetap setia menanti kapan bisa bernyanyi “Naik kereta api tut..tut..tut…siapa hendak turut” dengan perasaan riang dan berbangga hati…

Simpson: The Movie

Akhirnya…setelah perjuangan panjang, gagal berkali-kali, jadwal masing2 yang tak pernah bisa kompromi, dengan heroiknya kehabisan tiket pas didepan ticket counter, tidaaakkkk….!!!

 
Kali keempat percobaan untuk nonton the Simpson akhirnya tembus, akhirnya dapet tiket, akhirnya ngendon di setia budi satu jam buat nungguin film, gelar capsa yang akhirnya di grebek ama security 21 (ya ngga gitu2 banget sih…hueheheheheh)

 
Anyway buat filmnya sendiri, rada sedikit pahit ya… (kopi kali pahit =P) kalo penonton lain pada ketawa ngakak, gw terkadang senyum sedikit, terkadang juga senyum banyak…tapi kok sering juga malah terdiam mengernyitkan dahi.

 
Buat gw ini film banyak sindirannya, mengandung kritik sosial yang pedas tapi terselubung, musti mikir…jadi berat nontonnya… ini apakah sekedar perasaan gw ato yang lain juga ngerasa gitu ya? So what do you all think ‘bout this?

Mari kita berpisah sayang...

Ternyata hati punya maunya sendiri…

Sementara aku menunggu dalam temaram senja yang remang, yang semburat hangatnya kian menghilang. Hatiku berlari2 riang, sesekali merayu-rayu minta dicumbu, Mengejari laki-laki dgn tatapan mesra dan suara manja. Tak peduli pada diriku yang bimbang lalu gamang, lelah dan menyerah, macam ombak yang bergerak kepantai lembut tapi galau, penuh misteri sahaja. Hati bergembira ria merayakan perasaan yang begitu meluap sempurna, ketika tanganku hanya menggenggam sisa puntung rokok yang baru saja terhisap habis….tanpa tangis…tanpa pujaan hatiku yang manis…