« August 2007 | Main | October 2007 »

Soal Senja dan Seno Gumira

Barangkali memang ada keterikatan tersendiri antara Seno Gumira dan Senja. Seperti saat ini, ketika saya sedang menikmati novelnya berjudul Negeri Senja.  Ini kali keberapa saya melihat senja hadir dalam karyanya. Senja yang bergelimang cahaya keemasan sekaligus menimbulkan suasana menekan serta rasa was-was akan kehilangan saat nanti matahari tenggelam. Senja yang dalam kisahnya selalu tampak menawan meski terkadang penuh perasaan rawan.

Senja kali ini belum benar-benar saya selesaikan. Toh novel yang berkisah tentang negeri senja ini memang bertutur soal negeri dimana senja selalu menggantung dan matahari enggan terbenam dalam genangan cahayanya yang menyilaukan. Senja akan selalu tertahan di benang cakrawala, tak perlu terburu-buru, tak ada lagi senja yang harus diburu, dan semoga meninggalkan saya sedikit alasan untuk berlama-lama dan tidak segera mengembalikan novel pada si empunya... haha =P

Menikmati senja Seno Gumira, buat saya adalah mengizinkan waktu berjalan perlahan. Agar setiap kata-katanya mengalir tenang, menelusup dalam diam dan memabukkan. Layaknya sebuah ciuman kekasih yang hadir penuh kelembutan lalu semakin dalam dan menggetarkan.

Ada sesuatu dalam kisahnya yang selalu membuat perasaan menjadi tidak aman, timbul tenggelam dan samar. Sesuatu yang membuat saya seketika terpana ketika mengikuti imajinasinya dalam rangkaian kata yang membuat peristiwa tampak begitu sempurna memesona.

Kiranya cukuplah saya larut dalam gaya bahasanya yang begitu mendayu sendu namun menyimpan kekuatan maha dahsyat saat mengalun kisah. Sekarang saya hanya ingin terhayut dalam sepotong senja, senja seorang Seno Gumira, perkenankanlah saya luruh dalam cinta...

                            

Antara Tahu Telor, Sate Sampler dan Mantan Pacar

Apa rasanya berbuka puasa bersama mantan pacar, lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik lagi yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain? Hehe. Dan inilah yang gw lakukan saat weekend kemaren, melewati hari menjalani pertanyaan tersebut.

Hasil dari pertemuan itu, ternyata gw menemukan tempat tahu telor yang enak (ngga nyambung! haha) dan tempat itu adalah Sate khas Senayan di Jl Kebon Sirih. Gw kira cuma satenya aja yang rasanya istimewa lembutnya (waktu itu gw kebetulan pesen sate sampler, biar bisa mencicipi cita rasa seluruh satenya mulai dari sate ayam, kambing dan sapi) tetapi begitu mencoba menu yang ini, tentu saja atas rekomedasi mantan pacar, lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik lagi yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain, ternyata memang rasanya mak nyusss! (refer to: tahu telornya ya bukan selingkuhnya =P) and owww… you should try ginger tea-nya, biasanya gw nggak suka jahe dalam segala bentuk, but this one definitely worth to try :D

Jadi begitulah, pembicaraan mengalir begitu saja diantara tahu telor, sate dan teh jahe. Membicarakan kawan lama, sampai kawan baru, dari hal-hal ngga penting soal uban dan warna rambut sampe soal perkembangan telekomunikasi di Indonesia serta kelangsungan berbangsa dan bernegara (hah?!)

Buat gw, sebenarnya hubungan gw ama mantan pacar, -lebih spesifik lagi pacar pertama, lebih spesifik yang gw putus karena gw berselingkuh dgn lelaki lain- :D bisa dibilang amazing, mengingat apa yang pernah terjadi 4 tahun yang lalu. Dimana pada kala itu bukanlah sebuah akhir yang indah bagi sebuah relasi. Tapi ternyata waktu berlalu, masing2 dari kami menjalani kehidupan sendiri2 hingga kini bertemu lagi dengan sosok yang jauh berbeda dengan bertahun2 yang lalu.

Dan ini bukan suatu hal yang terbayangkan sebelumnya. Ada masa-masa dimana kami tidak saling menyapa, saat luka yang tertoreh masih begitu terbuka. Haha. Tapi sekarang semua perbincangan berajalan apa adanya, sederhana dan mengena. Bertukar kisah soal gebetan baru masing2 jadi hal yang lumrah dan biasa. Pencapaian luar biasa untuk empat tahun perjalanan kita. Bukan begitu? Let's cheers.. Ditengah tahu telor, sate dan teh jahe....We're doing doing great daaaggghhliiinngggg.... we're doing great.... =P

Bersama Pembalap Robert

Beberapa hari yang lalu gw upload foto baru untuk profil gw, judul fotonya persis sama dengan judul postingan blog gw kali ini. "Bersama pembalap Robert". Foto ini diambil di Sentul saat si Robert -kekasih Ebi- meraih juara kedua untuk lomba balap mobil yang diikutinya. Drag race, kalo ngga salah kelas 17 detik ya…selamat ya Bet…

Sebenarnya ini kali pertama gw ke Sentul, dan semuanya berawal dari pernikahan mbak Wina. Paginya sebelum berangkat ke kawinan mbak wina…nurul, ari dan gw menerima undangan si Eby yang ngajakin berangkat nonton Robert (Bet, ya ampun jadi tontonan nih…hihihih), yah gw okein dunk, secara belum pernah ke sentul gitu, lagian kata orang there always be the first time for everything, dan gw merasa ini pasti menarik.

So… beginilah skenarionya, dari kos berangkat ke kawinan pakai rok melambai2 (itu rok yang gw pake di foto dg caption: dress code black), begitu selese kawinan langsung ganti jean + kaos… (Bouw… maw ke sentul pake terusan rok gitu?? yang bener aja, hahahaha).

Dari pernikahan mbak Wina, Eby langsung tancap gas di jalan tol menuju sirkuit sentul, tentunya membawa kami sebagai muatan, heheheheeh, namun apa daya ternyata waktu tidak juga terkejar, begitu nyampe disana si Robert sudah selesai berlaga (cieee berlaga). Akhirnya kami malah nonton mobil yang srempetan di luar sirkuit, waktu pengetesan di area belakang, ngeri juga ya…bisa ampe penyok berat begitu...

Tapi kalo dipikir2 emang karena kecepatan tinggi sih, jadi begitu menghantam dikit, wuaahhh efeknya luar biasa…gw jadi inget guru fisika SMA gw yang pernah bilang kalo ada mobil yang melaju kencang terkena lemparan kerikil kecil bisa jadi efeknya sangat berbeda dibanding kalo mobil tersebut dalam keadaan diam…(nah berhubung ini pelajaran fisika, jangan tanya penjelasan selanjutnya, karena pastinya gw tidak sedang menyimak, heheheheeheh)

Aniway kembali ke Robert, soal kelihaiannya mengemudi memang tidak diragukan lagi…kalau ngebut mantap euy! ini terbukti saat beberapa waktu yang lalu pulang dari dufan. Waktu itu ada tiga mobil yang berjalan beriringan. Mobil paling depan tentunya mobil yang dihuni manager divisi dan senior2, mobil kedua masih dihuni senior tapi banyak juga juniornya, nah mobil ketiga isinya yang junior2 dengan Robert dibalik kemudi.

Nah begitu nyampe di tol, entah bagaimana , mobil tiga dimana kami para mt yang lucu imut dan menggemaskan ini bersemayam (hah, sempet2nya narsis?!) tertinggal jauh dengan mobil2 lainnya. Akhirnya Robert pun segera beraksi dengan kecepatan tinggi, mobil keduapun tersusul, ya udah Bet… susul aja mobil pertama, biar kita persis dibelakangnya. Kan yang tahu maw makan malam dimana cuman penghuni mobil satu, mobil dua dan tiga cuma ngikut. Begitulah, dan hanya butuh waktu singkat untuk mengejar mengejar mobil si manager divisi,  Robert melaju kencang namun tetap tenang dan pasti di jalan Tol, tapi… sejurus kemudian...

Lho…lho Bet?!

Eh Mobilnya…mobil si mas Andy kelewatan, Bet…itu…itu…

Pelan Bet…Pelan…Mundur…Bet...Mundur...

"Hah?!Mundur?!"

Lagi Suka Mengutip

Bermain ke blog Raditya Dika memang bukan hal yang tidak disengaja. Ini adalah suatu kesengajaan di tengah jam kerja kantor (lho?!) hehe.  Mengapa? Coz I find both, his blog and book quite entertaining :D

Benar. Raditya Dika adalah seorang blogger, yang kemudian beberapa dari tulisan blognya dibukukan menjadi "Kambing Jantan: Sebuah catatan harian pelajar bodoh" "Cinta Brontosaurus" dan buku terbarunya -yang mana saya belum sempat membacanya- "Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa".

Terkadang membaca tulisan Dika kita akan dibawa tertawa berderai dalam kisah2nya yang barangkali kejadian yang biasa terjadi sehari-hari namun ditanggapi dengan cara yang luar biasa ajaib. Tetapi membaca tulisan Dika juga kadang adalah sebuah perjalanan perenungan yang dalam, kontemplatif. Tidak melulu soal tertawa, atau membuat segalanya menjadi humor yang menghibur, tapi ada kalanya adalah refleksi pemikiran, perasaan, kondisi realita yang mengajak kita juga membaca kemasan tawa dan segala hal serius lainnya sebagai satu kesatuan yang terkadang bersinergi, membangun suatu pribadi yang utuh, membuat saya memahami betapa ternyata lapisan2 dari pribadi sayalah yang membuat saya menjadi sebuah satu kesatuan. hhahaaahahah. believe it or not?! it's defenitely a serrious effect from a tiny little book which will make you lough all the way when you read it :) But hey... the effect may vary depend on lah.... :D ini memang efek yang bersifat personal, bukankah terkadang kesadaran menghantam dengan cara yang tiada dinyana tiada diduga, hihihihihi

Coba saja kunjungi situsnya di www.kambingjantan.com seperti yang kerap saya lakukan saat membutuhkan hiburan atau hampir mati kebosanan, heehheeh. Aniway sepertinya saya sedang keranjingan mengutip nih, beberapa waktu yang lalu saya mengutip kisah dari tulisan2 Paulo Coelho. Kali ini saya akan mengutip puisi Sapardi Djoko Darmono dari blog Raditya Dika, saat dia sedang membahas penulis favoritnya ini.

Temanya sepertinya cucok dengan bulan puasa, saat semestinya kita (untuk menghaluskan dan setengah mati tidak berkata: saya) makin tidak menghindar dari-Nya :)

SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA

-Sapardi Djoko Darmono-

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku

Dua Jiwa yang Menyempurnakan Alam Semesta

Menurut gw ini salah satu cerita yang kalau gw baca membekas di hati. Secara tak sengaja saat mengunjungi situs gramedia, gw menemukan artikel berjudul Friday with Coelho. Bisa dibilang Paulo Coelho salah satu penulis favorit gw, tulisannya begitu sejuk dan menenangkan hati. Meski yang gw baca novel terjemahannya (welll...kalo novel terjemahan ya jangan diharap bahasanya seindah aslinya) tapi gw mengagumi alur ceritanya, makna yang tersimpan dibalik peristiwa yang dituliskannya. Seperti  novelnya berjudul "Sang Alkemis", sebuah novel spiritual tentang perwujudan legenda pribadi. Buat gw novel ini benar2 inspirational, you should read it sometimes...Barangkali untuk postingan mendatang, gw bakal mengulas lebih jauh soal Sang Alkemis, tapi untuk sekarang gw akan mengutip cerita dalam artikel itu dulu ya...   

Bilang aja gw idealis, terlalu mendramatisir kisah-kisah romantis ato yang semacamnya, tapi buat gw cerita ini entah kenapa menyentuh banget... secara mungkin gw sedang dalam pencarian belahan jiwa gw yang entah berada dimana, seseorang yang akan membuatku berkata “akhirnya ku menemukanmu”, pasangan sejati yang bakal jadi penjaga hati  ( hiyaaaa gubraaakkkk). Anyway here the story goes...hope you all enjoy it…

 

Menurut Taois, pada awal mulanya Roh dan Materi bertarung sengit, Akhirnya Roh menang, dan Materi dipaksa hidup di perut Bumi untuk selamanya. Namun sebelum masuk ke dalam Bumi, kepalanya terantuk langit, dan langit yang penuh bintang pun hancur berantakan.

 
Dewi Niuka muncul dari dalam laut dengan baju perisai apinya yang megah. Dia merebus warna-warna pelangi di dalam panci besar, kemudian dikembalikannya bintang-bintang ke tempat mereka semula. Namun, ia tidak berhasil menemukan dua potongan kecil langit dan langitpun tidak sempurna lagi.

 
Demikian asal muasal cinta: dua jiwa yang senantiasa berkelana di bumi, mencari bagiannya yang hilang. Ketika mereka bertemu, mereka menyempurnakan dua bagian yang hilang itu di langit, dan seluruh Alam Semesta pun sempurnalah…