Alienasi
Tak disangka saya jadi teringat kata: Alienasi. Rasa-rasanya pertama kali bertemu kata ini saat sedang duduk manis di kelas "Psikologi Komunikasi" membaca buku karangan Jalaluddin Rahmat berjudul persis sama dengan nama mata kuliah yang saya ikuti. Kali itu saya sedang membolik-balik halaman soal penelitian Dr. Zimbago, sebuah eksperimen yang bisa dikatakan cukup unik dan 'nyeleneh'.
Dr. Zimbago meletakkan sebuah mobil mogok dengan kap terbuka di dua tempat di USA. Yang pertama di daerah perkotaan Bronx dan yang kedua di pedesaan Palo Alto. Apa yang kemudian terjadi? Marilah kita tengok kondisi mobil yang ditinggalkan di Bronx, belum 24 jam berlalu kendaraan itu sudah mulai "dilepas" satu per satu. Pelek ban, kaca spionnya hingga peralatan audio mobil tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Keesokan harinya kondisi kendaraan itu makin memprihatinkan, kaca jendelanya pecah dan bodi mobil penuh dengan semprotan cat.
Bagaimana dengan nasib kendaraan kedua? Berbeda 180 derajat dengan rekan sejawatnya di Bronx. Meski sudah seminggu berada di daerah itu, namun mobil yang ditinggalkan untuk percobaan Dr. Zimbago tersebut nyaris tanpa perubahan apapun. Satu-satunya yang berbeda dari mobil tersebut adalah kondisi bahwa kap mobil yang awalnya terbuka kini tertutup karena saat hujan turun salah seorang penduduk Palo Alto berlari menuju mobil itu dan menutup kap mobil agar mesin mobil tersebut tidak basah oleh air hujan.
Dari hasil penelitian tersebut Dr. Zimbago menyimpulkan bahwa orang kota ternyata lebih agresif dari orang desa. Kecenderungan perilaku agresif ini dalam sudut pandang Dr. Zimbargo dikarenakan mereka ter-"alienasi" oleh kondisi sekitarnya. Suatu keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap segala hal atau sesuatu; sesama manusia, alam, lingkungan, tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri.
Alienasi pada masyarakat perkotaan ini terjadi akibat menipisnya interaksi antar individu di dalamnya. Ini bukan soal frekuensi pertemuan, sama sekali tidak, penduduk di perkotaan mereka sering bertemu satu sama lain tapi tidak pernah saling mengenal, karena hubungan yang terjadi antar mereka lebih didasarkan pada interaksi formal. Ini berbeda dengan yang terjadi pada penduduk di desa, mereka saling berhubungan dan membangun interaksi yang lebih personal.
Sebenarnya ingatan saya soal alienasi dipicu oleh percakapan sederhana dengan seorang teman dari teman kos saya. Awalnya basa-basi sopan mengenai kerasan tidaknya tinggal di Jakarta, lalu berlanjut soal dia lebih memilih hidup di Semarang daripada di Jakarta, alasannya? tak lain dan tak bukan ya soal interaksi itu tadi...
"Loh emang kenapa mas?" tanya saya
"Lebih banyak teman di Semarang, di Jakarta bukannya ngga kenal banyak orang, kenal.. tapi yang benar-benar teman ngga banyak, lebih sering ya..seperti ini maen ke tempat teman dari Semarang yang ternyata juga kerja di Jakarta"
"..."
Suatu ketika seorang teman juga pernah memasang status di Yahoo Massager-nya soal kesendirian dan keterasingan "the ultimate torture could happened to a man is trough solitude and loneliness"
Barangkali tidak sedikit orang yang begitu ter-alienasi di kota ini.
Barangkali juga saya
Bagaimana dengan anda?

kebetulan banget gw juga lagi mo bikin skripsi dengan salah satu variabelnya adalah alienasi >.<
karena gw ngerasa di jakarta pasti ga sedikit orang yang teralienasi...
topik ini menarik banget...
Posted by: uchi | January 8, 2008 11:20 PM