« September 2007 | Main | November 2007 »

Alienasi

Tak disangka saya jadi teringat kata: Alienasi. Rasa-rasanya pertama kali bertemu kata ini saat sedang duduk manis di kelas "Psikologi Komunikasi" membaca buku karangan Jalaluddin Rahmat berjudul persis sama dengan nama mata kuliah yang saya ikuti. Kali itu saya sedang membolik-balik halaman soal penelitian Dr. Zimbago, sebuah eksperimen yang bisa dikatakan cukup unik dan 'nyeleneh'.

Dr. Zimbago meletakkan sebuah mobil mogok dengan kap terbuka di dua tempat di USA. Yang pertama di daerah perkotaan Bronx dan yang kedua di pedesaan Palo Alto. Apa yang kemudian terjadi? Marilah kita tengok kondisi mobil yang ditinggalkan di Bronx, belum 24 jam berlalu kendaraan itu sudah mulai "dilepas" satu per satu. Pelek ban, kaca spionnya hingga peralatan audio mobil tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Keesokan harinya kondisi kendaraan itu makin memprihatinkan, kaca jendelanya pecah dan bodi mobil penuh dengan semprotan cat.

Bagaimana dengan nasib kendaraan kedua? Berbeda 180 derajat dengan rekan sejawatnya di Bronx. Meski sudah seminggu berada di daerah itu, namun mobil yang ditinggalkan untuk percobaan Dr. Zimbago tersebut nyaris tanpa perubahan apapun. Satu-satunya yang berbeda dari mobil tersebut adalah kondisi bahwa kap mobil yang awalnya terbuka kini tertutup karena saat hujan turun salah seorang penduduk Palo Alto berlari menuju mobil itu dan menutup kap mobil agar mesin mobil tersebut tidak basah oleh air hujan.

Dari hasil penelitian tersebut Dr. Zimbago menyimpulkan bahwa orang kota ternyata lebih agresif dari orang desa. Kecenderungan perilaku agresif ini dalam sudut pandang Dr. Zimbargo dikarenakan mereka ter-"alienasi" oleh kondisi sekitarnya. Suatu keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap segala hal atau sesuatu; sesama manusia, alam, lingkungan, tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri.

Alienasi pada masyarakat perkotaan ini terjadi akibat menipisnya interaksi antar individu di dalamnya. Ini bukan soal frekuensi pertemuan, sama sekali tidak, penduduk di perkotaan mereka sering bertemu satu sama lain tapi tidak pernah saling mengenal, karena hubungan yang terjadi antar mereka lebih didasarkan pada interaksi formal. Ini berbeda dengan yang terjadi pada penduduk di desa, mereka saling berhubungan dan membangun interaksi yang lebih personal.

Sebenarnya ingatan saya soal alienasi dipicu oleh percakapan sederhana dengan seorang teman dari teman kos saya. Awalnya basa-basi sopan mengenai kerasan tidaknya tinggal di Jakarta, lalu berlanjut soal dia lebih memilih hidup di Semarang daripada di Jakarta, alasannya? tak lain dan tak bukan ya soal interaksi itu tadi...

"Loh emang kenapa mas?" tanya saya
"Lebih banyak teman di Semarang, di Jakarta bukannya ngga kenal banyak orang, kenal.. tapi yang benar-benar teman ngga banyak, lebih sering ya..seperti ini maen ke tempat teman dari Semarang yang ternyata juga kerja di Jakarta"
"..."

Suatu ketika seorang teman juga pernah memasang status di Yahoo Massager-nya soal kesendirian dan keterasingan "the ultimate torture could happened to a man is trough solitude and loneliness"

Barangkali tidak sedikit orang yang begitu ter-alienasi di kota ini.

Barangkali juga saya

Bagaimana dengan anda?

                            

Meleng, Oleng dan Magnet

Kadang gw suka ngeri sendiri kalo liat gaya gw jalan.

Yang pertama: Meleng!

Yang Kedua: Oleng!

Gw suka tiba-tiba aja jalan meleng nabrak orang, nabrak kaca, kesandung meja, hadduuuhhh. Yang terkahir terjadi kemaren malam. Gara2 maw nyapain rombongan si Raymond yang lagi asik makan di gondangdia, eh lagi hebohnya kissbye genit2mata dikedip2in ala mini mouse gitu  ada angin tapi ngga ada hujan tiba2  didepan gw nongol orang tinggi besar potongan cepak pake kaos loreng2 militer pasang muka serem gara2 gw tabrak...huaaaaaaaa buset, gw cuman pasang tampang nyengir kuda selebar2nya sambil bilang maap..maap lalu segera berlalu dari situ. Ngeri mak...ngeri! Semetara itu gw dengan suksesnya jadi bahan ketawaan Raymond dan rombongan, oh nasib!

Padahal tadi paginya, di lokasi yang sama: Gondangdia. Waktu gw jalan melenggang bak peragawati menuju kantor sambil mikirin si gebetan (cieee) diundakan tangga yang tak terlalu tinggi, hampir aja gw pose kayang. Bayangin pose kayang di stasiun gondangdia, nggak banget kan?? Kayaknya emang hari itu hari apes gw deh, kenapa coba gw menginjak anak tangga yang kebetulan licin? Bikin terpeleset pastinya dan badan gw lagnsung oleng! Untung aja tangan gw yang satu langsung megang meja yang ada depan gw, tangan gw satunya menopang tubuh ke belakang, satu kaki tertarik jauh kedepan, satu kaki lagi dalam posisi terlipat. Tawa bapak dan mas-mas ojek yang lagi mangkal di stasiun segera mengegema gara2 pose gw yang aneh bin  ajaib itu. Gw cuma bisa think positif aja, pahala..pahala...gw bisa bikin orang ketawa pagi2 di bulan ramadhan yang suci, semoga surga balasannya, amin.

Oke nisa, tenang...tarik nafas...hembuskan...tarik nafas...hembuskan (gitu aja berulang2) lalu berdiri perlahan dan berjalan melenggang seolah tidak terjadi apa-apa, I keep telling myself "it's normal...it's normal" mirip film kartun saat ada dua karakter aneh mengadakan percobaan pembuatan senjata untuk menguasai dunia, lalu tiba2 ramuan2nya meletup2 dan menimbulkan goncangan hebat lantas satu tokohnya berucap "it's normal dear, everything is OK" lalu begitu gedung laboratoriumnya mulai runtuh satu persatu juga ngomong "it's normal dear, everything is OK" sampe gedungnya abis rata dengan tanah, dan dua karakter aneh tadi berlumur jelaga item dan tertutup debu tebal tetep aja bilang "it's normal dear, everything is OK", huaaaa normal dari hongkong???

Gw melanjutkan perjalanan sambil melantunkan doa dan puja-puji dalam hati berharap moga2 tadi ngga ada yang inget muka gw yang lucu imut dan menggemaskan ini...moga2 mereka terkena amnesia mendadak dan ingatan jangka pendek soal seorang cewek berpose kayang di stasiun gondangdia terhapuskan....Gw berharap dengan sepenuh hati, karena ini berkitan dengan masa depan dan karir gw yang cemerlang... masa nanti pas gw jadi artis tenar, tiba2 si bapak ojek tiba2 teringat, wah artis itu kan yang dulu terpeleset hampir pose kayang di stasiun gondangdia? hmmm ini jelas bukan  publisitas yang diharapkan hehehe =P

Soal meleng dan oleng ini memang gw jagonya, pernah juga tiba2 gw menatap langit2 ruang di timezone surabaya plaza, gara2 kepleset. Asik-asiknya jalan, tiba2 gubrakkk, loh kok gw jadi ngilatin langit2?? Dan benar saja gw jatuh sempurna dengan posisi terlentang. Jangan tanya gw diketawain ato nggak…pokoknya jangan! Aib…aib…ya jelaslah gw diketawain, temen2 gw yang jalan bareng aja ngga nulungin malah ketawa ngga berhenti ngeliat gw, hantu!!!!!

Kali lain gw jalan meleng nabrak mobil yang lagi berhenti, natap pintu, kesandung box kardus, meja, kursi, kejedot jendela, hhhh.... kayaknya badan gw mengandung magnet bumi alamiah yang mempunyai daya tarik terhadap benda-benda lainnya, hmm...seandainya magnet ini berfungsi baik terhadap Brad Pit ato gebetan gw, pastinya gw bahagia tiada tara (menatap menerawang sambil berkaca-kaca...) hahahahha ;D