« Alienasi | Main | Jawa Pos = Indo Pos = Kantor Pos?! = Bakmi Japos?! »

Percakapan di Bakoel Koffie

Akhirnya saat itu tiba juga. -selagi kau masih di Indonesia- Kita harus bicara. Soal apa yang tidak lagi kita punya.

Kamu : Barangkali aku harus mempertimbangkan lagi apakah kamu layak dicintai
Saya : Memicingkan mata dengan seluruh bahasa tubuh yg mengatakan “hah?!”

Kamu : Padahal aku telah memberi kamu kebebasan yang begitu besar
Hati saya seketika berkata: how can u give something that you never even have it? My freedom belong to me dear…it always be…past, present, future.

Kamu : Aku telah kalah oleh Jakarta… kamu berubah…
Saya : What the…

Kamu : Makasih buat kenangannya selama ini…mmm tapi bull sh*t!
Saya : …

Barangkali ini memang soal a bullsh*t thing called love. Dulu saya mencintai kamu, sekarang barangkali masih menyanyangi kamu, namun saya memutuskan pergi dengan alasan2 yang membuat saya memilih untuk tidak kembali. Saya telah mengatakan dengan jelas kepadamu berbulan-bulan yang lalu, akan tetapi tampaknya –yang semestinya juga saya menyadarinya- kamu begitu keras kepala dan tidak mau menyerah -saya akui itu luar biasa- tapi kadang-kadang kegigihanmu berada pada tempat yang tidak semestinya, dan membuatmu begitu...bebal.

Benar ini akan mengorbankan 4 tahun kebersamaan yang tidak sekejap mata. Betul kita telah mengorbankan banyak hal untuk relasi ini, tapi ini bukan lagi soal pengorbanan, ini soal bagaimana menjalani hidup jauh kedepan... Karena bersamamu saya hidup untuk saat ini, saya tak bisa melangkah keluar, tidak bisa berlari berloncatan dari masa depan ke masa lalu, dari kehidupan sekarang ke arah yang berlawanan dan kemana saja. saya menjadi terikat pada satu sisi waktu... terhenti pada satu Nisa dimana lapis-lapis diri saya yang lain mengabur...

Kamu : Terima kasih, tapi itu katamu, you can say whatever you want

Lalu saya, dalam percakapan ditemani segelas cokelat hangat itu pun membalikkan semua kata-kata dan pembelaanmu. Begitu kau mengatakan saya membangun pertahanan yang tinggi dan enggan membuka diri

Saya : Memangnya kamu tak begitu? Kamu tak mau dengar saya berkata apa, itu juga sama kan?

But my dear...apa yang begini ini masih bisa disebut relasi?

Barangkali tidak hanya kamu yang melukai saya, tapi saya juga telah melukai dirimu. I apologize for that... Hanya saja saat ini sepertinya kita berdua sama-sama terluka, lalu saya dan kamu sama-sama tak mau membuka telinga, kita berubah menjadi manusia-manusia keras kepala. And we both d*mn good at it!

Di Bakoel Koffie, segelas coklat hangat itu terasa begitu getir...barangkali karamel hangatmu juga begitu. Because we know, it's all about something that we no longer have...

                            

Comments

ini cuman cerita or kisahnyata.. kok aku jadi terbawa.. alur ceritanya..

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .